Kamis, 05 Desember 2013

Makanan Unik “Papeda dan Kuah Kuning”



Oleh: Eri Yuliastuti


            Papeda, kita semua pasti pernah mendengar nama makanan ini, tapi apakah pernah membayangkan bagaimana wujud tampilan atau sajian dari makanan ini? Bagi anda yang belum tahu bagaimana bentuknya saya beri gambaran, coba bayangkan ‘kanji’ jika diberi air panas kemudian diaduk, lengket, yah seperti lem. Anda pasti heran melihat makanan yang bentuknya seperti itu. Tetapi justru itu yang menjadi keunikan dari makanan ini.
           Papeda itu merupakan makanan khas yang berasal dari Papua dan Maluku. Makanan ini terbuat dari tepung sagu murni. Tepung sagu diperoleh dengan cara memotong pokok sagu, lalu bagian pangkalnya diperas hingga sari patinya keluar. Sari pati inilah yang digunakan dan diolah menjadi papeda. Sebelum diolah biasanya tepung sagu murni disimpan dalam alat yang bernama tumpang.
            Proses pembuatan papeda itu sendiri sebenarnya bumbu-bumbu yang menghasilkan warna kuning. Papeda pada dasarnya tidak berasa atau hambar. Maka campuran dari papeda dan ikan kuah kuning ini sangat cocok, karena sangat sederhana dan mudah untuk di coba. Tepung sagu murni di aduk-aduk sambil dituang air mendidih secara bertahap hingga terbentuk adonan yang menyerupai lem sang kental dan siap untuk dimakan. Makanan khas dari Indonesia bagian Timur ini pada dasarnya beraroma menyengat.  Biasanya makanan ini disajikan dengan kuah ikan kuning, yaitu ikan yang dimasak dengan campuran rasanya akan terasa lebih nikmat.


         Cara mengambil papeda terbilang unik, karena bukan menggunakan sendok tetapi justru menggunakan sepasang sumpit. Caranya yaitu dengan memegang sumpit dengan kedua tangan, diputar dengan cepat sehingga menghasilkan gulungan lem papeda hingga putus. Saat terpisah dari wadah utama, kemudian dituangkan ke piring dan diberi kuah ikan kuning supaya lebih cocok dan menggugah selara makan. Bagi penduduk lokal yang sudah terbiasa, makan papeda sama halnya dengan makan bubur ayam. Tinggal diseruput langsung masuk ke perut. Karena bahan dasar untuk membuat makanan ini yaitu sagu, dan sama halnya dengan kita yang makan nasi. Namun bagi yang pertama kali mencoba, disarankan menelan sedikit demi sedikit papeda tersebut.
            Nah itulah tadi paparan dari papeda dan ikan kuah kuning, salah satu makanan khas dari Papua dan Maluku yang sangat unik dan patut untuk dicoba, dan hal yang terpenting adalah kita juga harus ikut melestarikan makanan ini, supaya tidak punah.
 




TIMUS

Oleh : Riva Aji Prawiro
 NIM : 1102413029



Timus, jajanan pasar yang murah namun memiliki rasa yang nikmat. Makanan berbentuk lonjong seperti telur bertekstur empuk ini memiliki banyak penggemar. Kebanyakan penikmatnya adalah dari kalangan menengah kebawah, namun tidak jarang juga penikmat timus dari kalangan atas. Jajanan timus ini digemari oleh anak-anak, remaja, orang dewasa, dan orang tua. Karena teksturnya empuk makanan ini mudah dimakan.

Timus merupakan makanan yang berasal dari daerah Yogyakarta. Kenikmatan timus sering kita dengar di tanah Jawa. Makanan ini mengandung karbohidrat yang cukup, sehingga dapat menunda rasa lapar. Timus sangat cocok sebagai cemilan gorengan untuk keluarga karena tidak berbahaya seperti junk food. Rasa manis yang dimiliki oleh timus sangat khas, karena berasal dari ubi jalar yang manis dan dipa;dukan dengan kemanisan gula merah yang meleleh.



Bahan dan cara pembuatan timus cukup sederhana. Ubi jalar yang memiliki rasa manis yang khas, tepung pati, gula merah, dan garam secukupnya. Caranya yaitu :
1.      Rebus ubi jalar hinggga matang dan empuk
2.      Kupas kulitnya, kemudian haluskan ubi jalar
3.      Campurkan ubi jalar yang sudah dihaluskan dengan tepung pati dan garam secukupnya
4.      Bentuk menjadi lonjong, dan dalamnya di isi dengan gula merah
5.      Kemudian digoreng hingga warnanya kecoklatan, lalu tiriskan dan timus siap dihidangkan.

Saat yang tepat untuk menikmati timus adalah saat timus masih dalam keadaan hangat. Dalam keadaan hangat, cita rasa yang dimiliki timus akan terasa lebih nikmat dibanding jajanan yang lain. Dari bentuknya yang lonjong dan berwarna kecoklatan, jika dimakan kita akan merasakan kenikmatannya. Dari gigitan pertama saja kita bisa merasakan gigi yang menggigit timus akan terasa “kresss”, renyah, gurih, crispy. Ketika timus masuk kedalam mulut sensasi kelezatannya sungguh luar biasa, terasa empuk saat dikunyah dan lumernya gula merah membuat lidah kita serasa ingin selalu bergoyang.



Rabu, 04 Desember 2013

Lontong Tuyuhan Khas Lasem Rembang



Lontong Tuyuhan Khas Lasem Rembang
Oleh Miftakhul Yuni Hapsari
Nim 1102413031

Rembang, yang dikenal sebagai Bumi Dampo Awang tak luput dari daerah yang kaya akan ragam
kuliner Nusantara. Dan salah satu masakan yang khas adalah
Lontong Tuyuhan.
Pusat wisata kuliner Lontong Tuyuhan sendiri terletak di pinggir jalan kabupaten yang mengubungkan Kota Kecamatan Lasem dan Kota Kecamatan Sulang, tepat berada di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten
Rembang. Meski lokasi ini bukan di pinggir jalan raya pantura, namun tidak menghalangi niat para penikmat
kuliner untuk singgah ke tempat wisata kuliner identitas Kota Rembang, yang berjarak 3 km dari
jalur utama penghubung dua ibukota propinsi, yakni Surabaya dan Semarang.
Ada dua alasan mengapa Lontong Tuyuhan menarik dibidang perkulineran, yakni kolaborasi paket wisata kuliner sekaligus wisata alam. Letak Desa Tuyuhan yang berada di kaki bukit Bugel, di tengah hamparan
tanaman padi nan subur dan ladang-ladang tebu yang diusahakan masyarakat, dinaungi pegunungan Lasem dengan puncak Argo di ketinggian 800 m dpal, diterpa udara semilir sejuk segar khas hawa angin gunung, sangatlah membantu menurunkan tensi denyut pikiran, melepas penat dari rutinitas kehidupan. Serasa kita menikmati wisata kuliner di tengah alam pedesaan nan permai, sehingga semakin menggelorakan nafsu makan dan hadirnya sebuah kebahagiaan di tengah acara makan bersama keluarga ataupun teman.
Membahas tentang keistimewaan lontong tuyuhan. Sebenarnya, lontong tuyuhan tidaklah jauh berbeda dengan opor ayam. Kekuatannya berada pada kuah santan yang lebih kental, gurih dan pedas hasil olah tumis cabai merah dan jahe, dengan sedikit tambahan kecap manis, serta perpaduan rasa rempah-rempah kemiri, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.
Bila kita jajan menu ini, biasanya penjual menawarkan pilihan potongan ayam. Menurut Pak Katemin,salah satu penjual, seekor ayam dipotong menjadi 12 bagian, yaitu kepala, leher, dada, dua paha bawah, dua paha atas, dua sayap kanan kiri, punggung, ekor, dan ati ampela. Sengaja dipilih ayam kampung muda, istilah Jawanya kemanggang, agar didapat tekstur daging ayam nan empuk, tidak terlampau keras, tidak terlalu lunak.
Ada satu kekhasan lagi dari menu yang resepnya ini diwariskan secara turun temurun dari para leluhur Desa Tuyuhan, yaitu bentuk lontongnya, yang dibungkus daun pisang dan berwujud prisma segitiga. Cara membuatnya pun tidak asal-asalan, ada resep khusus, sehingga lontong terasa empuk dan lembut di mulut. Salah satu rahasia dapurnya adalah diimbuhkan dengan sedikit daun pandan, agar aromanya bertemu dengan rasa nasi, sehingga semakin melengkapi kelezatan lontong tuyuhan.
Dan konon, citarasa lontong tuyuhan tidak lepas dari kepercayaan para penjualnya. Mereka meyakini lontong hanya akan terasa enak jika dimasak dengan air Desa Tuyuhan. Hal yang berbau klenik ini seolah menjadi pembenaran bahwa memang lontong tuyuhan tidak bisa disamakan dengan opor ayam dari daerah manapun.
Jangan membayangkan menu ini dihidangkan oleh restoran/ warung makan kelas atas. Yang ada di Tuyuhan, hanyalah los-los sederhana berukuran 3m X 4m, dengan tempat duduk berupa bangku panjang, meja kayu beralas kain plastik dengan ornamen bunga dan bangunan semi terbuka, sehingga nuansa alam Tuyuhan bisa kita jelajahi. Dan penjualnya pun menggunakan angkringan yang terbuat dari bambu atau rotan, yang cara membawanya dengan dipikul, sebagai tempat meracik lontong dan opor ayam.
Sebuah pencitraan sajian menu tempo doeloe, khas pedesaan pesisir pantai utara Jawa. Sebelum digantikan teh botol atau es kelapa muda, dulu dihidangkangkan air kendi secara gratis sebagai minuman teman bersantap lontong tuyuhan. Tentu saja isi kendi adalah air yang berasal dari sumber pegunungan Lasem, yang segar dan higienis, tanpa terkontaminasi zat-zat polutan.

Mendoan Makanan Khas Banyumas




Oleh : Revina Riandini
NIM : 1102413016


Mendoan.jpg

Ada abanyak macam jenis makanan di Indonesia, karena Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya maka tak heran jika Indonesia memiliki banyak ragam makanan. Seperti contoh udeg dari Yogyakarta, pempek dari Palembang, dan masih banyak lagi makanan-makanan yang khas dan juga lezat untuk di nikmati. Makanan-makanan tersebut tentu mempunyai rasa dan cirri yang khas sehingga dapat membedakan dengan makanan-makanan dari daerah lain.
Tapi disini saya akan membahas lebih detail tentang makanan Khas dari dearah saya yaitu Banyumas, di banyumas sendiri terdapat banyak ragam makanan khas seperti getuk goreng, soto sokaraja, dan Mendoan, yang paling disukai oleh masyarakat dan paling di cari oleh wisatawan yang singgah di kota banyumas adalah mendoan. Jadi saya akan membahas lebih detail lagi tentang mendoan itu sendiri.
Mendoan adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar kedelai, yang tentunya sehat karena mengandung Protein Nabati yang sangat baik bagi kesehatan. Kedelai kemudian difermentasi dan di bungkus dengan daun pisang, kenapa di bungkus dengan daun pisang? Karena jika dibungkus dengan bahan lain akan mengurangi cita rasa dari tempe tersebut, daun pisang dapat menambah rasa gurih pada tempe yang sudah jadi nantinya.
Setelah kedelai menjadi tempe baru lah bisa dibuat menjadi mendoan, yang cara pembuatannya adalah sebagai berikuttumbuk bumbu-bumbu yang terdiri dari garam dan merica yang sudah di sangria, kemudian campurkan tepung terigu dan aci kanji kedalam mangkok atau wadah yang sudah di sediakan, kemudian masukan bumbu halus yang sudah di tumbuk, jika ingin menambahkan rasa gurih masukan juga daun bawang yang sudah diiris kedalam adonan, kemudian masukan air secukupnya aduk hingga merata. Setelah adonan tercampur semua kemudian masukan tempe kedalam adanan tersebut sampai semua permukaan tempe terkena adonan. Panaskan penggorengan dengan nyala api yang kecil, mengapa dengan api yang kecil? Karena jika apinya terlalu besar akan merusak tekstur dari mendoan tersebut karena bisa jadi menjadi kering dan gosong. Setelah penggorengan panas masukan tempe yang sudah terccampur adonan kedalam penggorengan dan masak hingga setengah matang. Angkat dan mendoan sudah dapat di sajikan dengan cocolan sambal kecap atau sambel trasi.
Mendoan di sajikan setengah matang karena itu merupakan cirri khas dari mendoan itu sendiri, jika tempe digoreng sampai kering itu disebut dengan kripik tempe. Jadi itulah yang membedakan mendoan dengan olahan tempe lainnya. Jika anda tertarik silahkan mencobanya di rumah dan jika anda malas untuk membuatnya anda dapat berkunjung ke banyumas dan menikmati mendoan yang lezat itu. Selamat mencoba.