Kamis, 28 November 2013

TARI MERAK



oleh Riva Aji Prawiro

NIM : 1102413029


Tari merak yang berasal dari tanah Pasundan adalah suatu anugrah yang dimiliki Indonesia. Tidak heran jika Indonesia negara yang memiliki ribuan gugusan pulau terlahir dengan budaya yang beraneka ragam. Salah satu budaya yang ada di Indonesia adalah budaya tarian yang beraneka ragam disetiap daerah.

 Tari merak adalah tarian yang berasal dari Jawa Barat dan diciptakan pada tahun 1950an oleh Raden Tjetjep Somantri kemudian di revisi oleh Irawati Durban tahun 1965. Tarian ini terinspirasi dari keanggunan ekor burung merak jantan yang memililki warna menawan dan suka bersolek. Meskipun tari ini meniru tingkah burung merak jantan yang sedang menarik perhatian perhatian merak betina, namun tarian ini dibawakan oleh penari wanita.

Dalam pertunjukannya tari merak memiliki kostum warna-warna yang indah dan motifnya menyerupai bulu merak. Ciri khas dalam tarian ini umumnya penari mengenakan selendang yang diikatkan di pinggang, dan jika dibentangkan akan menyerupai ekor burung merak yang terbentang dan memiliki berbagai warna. Penari tari merak mengenakan mahkota yang disebut “siger” dengan hiasannya yang berbentuk kepala burung merak.

Gerakan dalam tari merak menggambarkan tentang keceriaan dan kegembiraan oleh merak jantan yang menarik hati sang merak betina. Gerakan yang gemulai dan lincah ditunjukan dalam tarian ini. Tidak heran jika tari merak menjadi tarian yang sering digunakan untuk mennyambut pengantin pria atau penghibur tamu undangan. Dengan keindahan gerakan dan kostum tari merak kini tarian ini telah terkenal ke seluruh dunia.


Rabu, 27 November 2013

Tari Laesan di Lasem, Rembang.


Oleh Miftakhul Yuni Hapsari
NIM 1102413031
 Di tanah Jawa ini mempunyai aneka regam kesenian yang tersebar di daerah-daerah, tidak terkecuali di desa-desa kecil. Hasil kesenian yang banyak macamnya itu mempunyai corak yang beda-beda sesuai dengan sifat dan kepribadian masyarakat itu. Perbedaannya sifat dan kepribadian masyarakat dipengaruhi dengan beberapa hal yang cocok dengan sesuatu di lingkungannya mungkin alam, sosial, apa budaya sehingga mempunyai dampak juga di karya seni daerah tersebut. Tidak disangka di desa Soditan kecamatan Lasem Kabupaten Rembang ada budaya kesenian Laesan. Budaya Laesan yaitu salah satunya budaya kesenian tradisional rakyat dari hasil ekspresi estetis masyarakat  desa soditan  Kabupaten Rembang sampai fenomena trance di dalam. Laesan berubah menjadi Laisan karena adanya dialog dari masyarakat setempat. Mungkin dilihat sampai cara Morfologis, laesan asalnya dari ukara Lais yang dapat pungkasan –an. Lalis yang artinya “mati” dan an berarti “sepert berpura-pura meninggal” (Poerwadarminta 1983: 258). Di zaman nenek moyang kita, budaya laesan dimainkan sesudah melakukan di musim panen dari hasil bumi untuk mensyukuri nikmat yang sudah diberikan tuhan dan biasanya juga dimainkan waktu malam satu syura karena ini jaman dulu belum ada lampu dan di malam satu syura itu malam yang padang. Budaya Laesan yaitu budaya yang genap karena budaya Laesan masuk seni yang di dalam pertunjukan dari semuanya mengandung kaindahan dan nilai atau makna tersendiri. Kesenian Laesan yaitu tontonan tari yang erat hubungannya dengan kepercayaan terhadap roh yang diminta untuk membantu memberi kekuatan dari pemenari Laesan sehingga pemenari bisa memenari karena kesurupan roh yang dianggap bidadari. Di sewaktu pertunjukan laesan tidak lepas dari ritual untuk memberi kekuatan mistik atau magis di dalam pertunjukan Laesan. Kesurupan yaitu jenis gejala kerasukan roh yang umum sekali dan bagian bagian paling banyak dari kasus –kasus seperti itu. (Geertz, 1981 : 24). Sebelum Laesan dimainkan, di dalam permainan budaya Laesan ini dibutuhkan alat-alat yang masih tradisional yaitu: 3 glondongan bambu kecil yang kira-kira panjangnya 32 cm, jun (tempat air yang terbuat dari tanah) satu ukuran kecil dan jun ukuran besar satu, sangkar ayam yang sudah ditutup dengan kain putih atau mori, dan sesajen dilengkapi pisang emas satu tandan dan bunga-bungaan atau kemenyan. Di pagelaran budaya Laesan menceritakan tentang kehidupan di dunia ada tiga tahap. Yang nomer satu yaitu Laes dimasukkan sangkar. Itu menceritakan sosok bayi yang masih dikandung oleh ibu. Yang kedua yaitu pada saat sangkar dibuka dan diibratkan manusia lahir di dunia dan ada di dalam kehidupan dunia. Yang ke tiga  atau penutup yaitu tahap pengobatan. tahap ini menceritakan mungkin manusia di dunia tidak dipungkiri juga pernah ngalami sakit akhirnya manusia sesudah hidup di dunia maka manusia harus menemui kematian. Urutan pagelaran seperti itu tidak bisa diacak atau tidak diurutke, harus seperti itu urutannya: Awal pertunjukan sesudah melihat kumpul sampai posisi melingkar dan alat semuanya sudah disiapkan, maka pimpinan pertunjukan menhampiri pawang yang menjadi pemenari laesan (LAES) untuk masuk tempat pertunjukan. Laes masuk dan duduk di tengah tempat pementasan kemudian badannya ditali menggunakan tali bersama mengucapkan tembang pembuka yang berbunya ”Lailahaillallah Muhammadurrasulullah pengerane gawe laes” sampai diulang-ulangi. Sesudah itu, di saat sepi dan tenang (konsentrasi) kemudian Laes dimasukkan di dalam sangkar yang sudah ditutupi dengan kain mori dan di dalamnya ada kemenyan atau dupa yang sudah dibakar dan juga ada baju ganti. suara alat musik terus mengalun sambil menunggu sangkar mau bergerak. Mungkin sangkar tadi sudah bergerak maka itu tanda Laes sudah mengalami masa trance dan pertanda mungkin Laes meminta supaya cantrik ganti lagu “lepasno bandhan niro ini sari laes”. Kemudian pimpinan pertunjukan meminta kepada panembang supaya lagunnya diganti lagu bandan (dodadan tali). Setelah sangkar bergerak, cantrik bukak sangkar supaya Laes tidak dilihat oleh penonton. Sesudah Laes ini keluar dari dalam sangkar sudah keadaan mata terpejam, semua badan Laes yang diikat tali mulai dari leher, badan dan tangan tiba-tiba sudah lepas sampai mata terpejam dan Laes sudah ganti baju dan ganti yang sebelum sudah diletakkan di dalam sangkar tersebut. Kejadian itu hanya simbolik / tanda mungkin sudah bergabungnya badan Laes dan bidadari. Karena badan Laes sudah lepas dari ikatan tali, kemudian Laes memenari mengelilingi tempat pertunjukan dengan mata terpejam. Laes akan berhenti menari pada saat lagu dinyanyikan sampai salah dan pawongan yang menabuh melakukan ritual, seperti : penyanyi fals saat menyanyikan lagu, penabuh tidak bisa mengiringi lagu yang dinyanyan dan saat penonton rame (nyuwara banter). Di waktu itu kadadean tersebut kejadian, maka Laes mengamuk dan jatuh atau gelimbungan di tanah dan dimasukkan didalam sangkar lagi. Setiap Laes dimasukkan dalam sangkar, ini pertanda mungkin Laes meminta ganti tembang-tembang lainnya. Tembang-tembangnya seperti tembang kembang manggis, kembang tebu, tambak lebak, kembang turi, kendi pati dan sebagainya. Saat Laes sudah dimasukkan di sangkar kemudian ditunggu sampai Laes berontak meminta dikeluarkan dari sangkar kersebut. Yang kedua yaitu isi yang ada beberapa permainan, seperti : jaran dhawuk, santrine adol gambir, santrine ajar pencak, celeng boleng dan sebagainya. Dari beberapa permainan tersebut tersebut mempunyai lagu khas sendiri-sendiri. Seperti permainan jaran dhawuk yaitu permain yang membayangkan menaiki kuda. Kuda di sini menggunakan  alat sapu kelut. Santrin penjual gambir menggunakan perkakas tampah yang diisi sesajen. Permainan ini menceritaka pawongan yang berjualan gambir. Dan santrinnya belajar pencak kehidupan jaman dulu. Dan tahap kedua ini yang menggambarkan manusia yang hidup di dunia ini seperti berjualan yang di istilah jawannya yaitu “urip di ndonyo mung mampir ngombe” karena besok kita pasti kembali kepada Pangeran yang menciptakan hidup. Maka, pertunjukan Laesan ini hanya untuk mengingatkan dengan paraga laesan atau pamiarsa untuk bertindak baik karena kita pasti kembali kepada Pangeran yang menciptakan hidup dan akan dimintai pertanggungjawaban apapun  yang sudah kita kita lalui di dunia ini. Tahap terakhir yaitu penutupan dari pertunjukan Budaya Laesan untuk penutupan, pemimpin pertunjukan mengembalikan Laes supaya sadar seperti sebelumnya. Kemenyan yang ada di pinggir tempat pentas dikipasi lagi supaya asapnya mengepul dan keluar. Sesudah asap mengepul, Laes ditutup lagi dengan sangkar yang sudah penuh dengan asap kemenyan. Sadarnya Laes ditandai dengan Laes yang sudah tidak mengalami masa trance. Selesailah semua pementasan Budaya Kesenian Laesan. Namun, tahap ini juga mempunyai ciri khas yaitu ada di tembang SAYUNG-SAYUNG yaitu : lara tangis layung-layung, larane wong wedi mati sapa bisa ngeldina kejaba pengeran kula.
Pada tahap ini ngengetaken madawa mesthine kita sawektu-wektu tidak bisa mlayu dari syakaratulmaut atau kita mesrhi balik marang Pangeran yang gawe urip ini.

Tari Gabyong




Tari Gambyong sebagai icon Jawa Tengah
 oleh Revina Riandini


          Tidak kita pungkirin lagi bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang banyak sekali memiliki budaya yang sangat beragam, dari segi bahasa, adat istiadat dan tarian. Dari sabang sampai merouke pasti memiliki tarian khas dari daerah masing-masing yang menjadi daya tarik tersendiri. Seperti di Jawa Tengah sendiri memiliki beberapa tarian tradisional, salah satunya Tari Gambyong. Nama Tari Gambyong sendiri ternyata berasal dari nama seorang penari yaitu Gambyong yang hidup pada masa Sunan Paku Buwana IV.
          Gambyong juga disebutkan dalam sebuah buku yang berjudul “Cariyos Lelampahanipun” karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito, dimana dalam buku tersebut diceritakan bahwa ada seorang penari yang bernama Gambyong yang memiliki keahlian menari dan memiliki suara merdu yang pada saat itu menjadi idaman para kaum-kaum muda pada zamannya.
          Gerakan Tari Gambyong sendiri memiliki gerakan yang memusatkan pada gerakan kaki, tubuh, lengan dan kepala. Gerakan-gerakan Tari Gambyong yang halus dan mendayu-dayu menjadi ciri khas tersendiri. Arah pandang mata yang mengikuti gerak tangan dan mengikuti gerak jari-jari yang lentik menjadikan gerakan ini sebagai factor dominan gerak tangan ekspresi Tari Gambyong. Gerakan-gerakan kaki saat berjalan mempunyai kesan yang anggun dan indah.
          Selain Gerakan yang halus, iringan musik Tari Gambyong yang mendayu-dayu karena perpaduan alat musik khas Jawa seperti gender, kenong, kendang, gong, dan kempul semakin lengkap karena perpaduan antara gerakan dan music yang cocok.
          Tari Gambyong biasanya di sajikan untuk penyambutan tamu, atau mengawali suatu acara. Baik itu acara perkawinan, wisuda, maupun acara kunjungan kedaerahan. Demikian penjelasan yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Selasa, 26 November 2013

Tari Gambang Semarang




Oleh Endang Sunarsih
Tari Gambang Semarang merupakan tari khas yang berasal dari semarang. Tari ini adalah gabungan dari dua etnik, etnik jawa dan china. Tari ini campuran dari tari, suara , dan lawakan. Tari ini diciptakan oleh orang pribumi dan thiongkok. Cerita orang zaman dulu lagu tari ini diciptakan oleh warga thiongkok yang sudah lama menetap di Semarang. Keunikan tari ini terletak pada tepakan kaki si penari. Ekspresi gembira dapat terlihat di dalam tarian ini. dimana pada suatu malam ada empat orang penari yang sedang berkumpul, bernyanyi dan menari bersama-sama. Gerakan yang lincah, energik tapi tidak disertai emosi yang berlebihan menggambarkan orang semarang. 
Tari Gambang Semarang menggunakan gambang, bonang, kempul, kecrek, kendang (Jawa Barat), suling, sukong, konghayan , dan balungan (saron, demung ). Gambang adalah alat musik terdiri dari 18 potongan bambu yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini digunakan di kesenian gambang kromong bali. Bonang adalah berbagai gong kecil yang ditempatkan secara horizontal dalam bingkai kayu dan dipukul oleh tongkat berlapis. Kempul termasuk dalam gamelan bentuknya seperti pencon bonang barung dan bergantungan tetapi bentuknya lebih besar dan dipukul oleh bindhi. Kecrek terbuat dari lempengan besi yang ada di atas balok kayu dan dipukul oleh dua tongkat kayu kecil. Kendang  terbuat dari kayu dengan selaput (membran) yang cara memainkanya dengan cara dipukul. Suling terbuat dari kayu dan memainkannya dengan cara ditiup. Sukong terbuat dari batok kelapa dan busurnya terbuat dari batang yang elastis rambut yang biasanya dipakai dalam busur terbuat dari rambut ekor kuda jantan yang berwarna putih keemasan, dimainkan dengan cara digesek. Konghayan adalah rebab dengan ukuran sedang berasal dari china.
Dalam Tari Gambang Semarang ini menggunakan tiga ragam gerak baku, yaitu ngondhek, genjot, ngeyek dan ketiganya merupakan gerakan yang berpusat pada pinggul. Gerakan ngondhek adalah gerakan seperti mengayuh sepeda. Gerakan tepak adalah gerakan dengan telapak kaki berjungkit. Gerakan megol adalah gerakan goyang pinggul. Gerakan ngeyek adalah gerakan pinggul berputar. Gerakan lambeyan adalah gerakan jari dan tangan. Goyangan pinggul seperti ombak air laut yang menghiasi Semarang. Oleh karena itu tarian ini enak dan nyaman dipandang mata. Seni lawak juga terdapat pada tarian ini yang merupakan salah satu identitas budaya yang dapat dengan mudah bergaul.
Dalam Tari Gambang Semarang ini terdapat unsur seni Cina dan Jawa hal ini merupakan salah satu wujud Semarang memiliki banyak etnis. Hal ini membuktikan bahwa di Semarang telah terjadi integraasi antara unsur-unsur budaya pribumi Semarang dan budaya china. Walaupun ini campuran dari dua etnis tetapi ini diciptakan oleh orang Semarang. Penari ini biasanya menggunakan kebaya dibuat dari bahan polos dengan hiasan bordir di bagian tepi-tepinya. Ujung kebaya ini dibuat meruncing. Kain yang digunakan untuk bawahan menggunakan kain batik pesisiran dan dilengkapi sonder. Sanggul penari dibuat dengan memadukan unsur-unsur sanggul Jawa, China , dan Eropa sehingga sangat terlihat indah.